PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS KEBENCANAAN - YAYASAN DEMASINDO JAWA TIMUR
50 Pengurus DMI se-Jatim Ikuti Pelatihan dan Praktek Tanggap Bencana di BPBD
- Sabtu, 11 Juli 2026 13:00:00
Surabaya (DMI) – Sebanyak 50 orang Pengurus Daerah
(PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) se-Jawa Timur mengikuti pelatihan dan praktek
tanggap bencana yang diadakan Yayasan Demasindo Jatim bekerjasama dengan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur secara lesehan di Taman Edukasi
Bencana BPBD Jatim, Sabtu (11/7/2026).
Saat membuka pelatihan itu, Ketua PW DMI Jatim Dr. KH. M
Sudjak, M.Ag menegaskan bahwa DMI yang lahir 54 tahun lalu (22 Juni 1972) itu
memiliki sejumlah fungsi pembinaan masjid yakni fungsi ibadah, fungsi idaroh
(tata kelola), fungsi imaroh (memakmurkan masjid), fungsi tarbiyah
(pendidikan), fungsi riayah (pemeliharaan), dan fungsi ijtimaiyah (fungsi
sosial/ pemberdayaan masyarakat sekitar masjid).
“Fungsi riayah atau pemeliharaan dan perawatan masjid
itu penting agar masjid tetap suci, bersih, sehat, indah, dan tahan terhadap
bencana, karena itu Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kebencanaan ini penting,
mengingat potensi bencana juga ada di Jatim. Selain bencana, tantangan lain
adalah program merangkul anak muda ke masjid, program digitalisasi, dan program
pemberdayaan UMKM melalui Halal Center,” katanya.
Sementara itu, Ketua Departemen Sosial-Kemanusiaan,
Lingkungan Hidup, dan Tanggap Bencana PW DMI Jatim H Lilik Halimy menambahkan
pelatihan bertujuan membekali pengurus DMI se-Jatim dengan materi terkait
potensi bencana di Jatim dan penanggulangannya agar mereka memahami ikhtiar
penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana, serta penguatan sinergi
DMI-BPBD di daerah.
Dalam pelatihan itu, Ketua Tim
Pencegahan/Penanggulangan BPBD Jatim Dadang Iswandi MT saat menyampaikan materi
tentang potensi bencana menjelaskan potensi bencana pada setiap kabupaten/kota
itu berbeda, tapi potensi bencana itu maksimal ada 14 potensi, diantaranya
gempa bumi, gunung api/erupsi, bencana asap/kebakaran hutan, banjir, kekeringan,
longsor, dan tsunami.
“Untuk gempa di Indonesia itu berkisar 10-20 detik,
kalau gempa terlama itu di Kobe-Jepang pada 1995 yang berkisar 40 detik dan 9,5
skala richter, sehingga jembatan tol pun rusak. Yang menarik, 94,9 persen dari
masyarakat yang selamat hingga mencapai 15.000 orang selamat itu justru karena
tahu cara menyelamatkan diri dan dibantu keluarga/saudara/ teman/tetangga dan
hanya 1,7 persen dari regu penolong/BPBD,” katanya.
Artinya, mengetahui cara penyelamatan diri saat terjadi bencana itu penting, selain bersikap baik kepada orang terdekat (keluarga/saudara/teman/tetangga) agar cepat ada bantuan. “Kalau gempa, cara penyelamatan adalah merunduk dan berlindung di bawah meja/kursi serta menutupi kepala bagian belakang (paling rawan). Jepang mengajarkan cara bertahan saat terjebak bencana adalah selalu bawa peluit, cokelat (2 batang untuk 72 jam/3 hari), dan sarung tangan,” katanya.

Selain materi, peserta juga diajak praktek pertolongan
pertama saat bencana/kecelakaan (pijat jantung) dan merasakan langsung bencana
dan dampaknya di Ruang Simulator, Virtual Reality (VR), dan Puskodalops BPBD
Jatim yang merupakan satu-satunya ruang simulasi bencana (gempa, gunung api,
kebakaran, banjir, longsor) yang dimiliki BPBD di Indonesia yang hingga 2025 dikunjungi
12.000 orang/pelajar dari 24 provinsi (45 kabupaten/kota).
Sebelumnya (6/7), Yayasan Demasindo Jatim bersama
Departemen Pemberdayaan ZISWAF PW DMI Jatim juga mengadakan Workshop
"Transformasi ZISWAF: Menuju Kemandirian Ekonomi Ummat" di Kantor BPN
Jatim yang diikuti 70 peserta dari BPN, PD DMI Surabaya/Sidoarjo, serta para
takmir masjid, pengelola nazhir wakaf, akademisi ekonomi syariah, serta mitra
pemberdayaan ekonomi umat.
Dalam workshop dengan narasumber DR. KH. Ahsanul Haq,
MPdI (Katib Syuriah PWNU Jatim), DR H. Asep Heri, SH,M (Kepala Kanwil BPN
Jatim), dan DR H. Moh. Arwani. M.HI (Wakil ketua BWI Jatim) itu disampaikan
pentingnya membangunkan “Wakaf Tertidur” melalui wakaf produktif untuk Kejayaan
Peradaban Islam Indonesia.
Selama ini, wakaf masih identik dengan pembangunan masjid, musala, makam, atau sarana ibadah lainnya, tentu fungsi itu penting, namun membatasi wakaf hanya pada fungsi ritual akan mengerdilkan peran besar wakaf dalam sejarah peradaban Islam. Dalam lintasan sejarah, universitas besar dunia Islam, rumah sakit, perpustakaan, pusat riset, hingga layanan sosial masyarakat berkembang melalui dukungan wakaf produktif sebagai instrumen distribusi kesejahteraan dan penguatan ekonomi umat, bukan sebatas jariyah. (PW DMI JATIM)

Popular Tags:
REKOMENDASI
Berita Terkait
Di Tengah Vaksinasi, Gubernur Jatim Dapat Hadiah Buku Sejarah Kiai Achmad
- Jumat, 02 September 2022
PD DMI KAB.BANYUWANGI MELAKSANAKAN KEGIATAN PEMBINAAN IMAM MASJID
- Rabu, 18 September 2024
Sejarah
Dewan Masjid Indonesia bermula dari pertemuan tokoh-tokoh Islam yang dihadiri oleh Bapak H. Rus'an dari Dirjen Bimas Islam dan Wakil Ketua Jakarta Pusat Bapak H. Edi Djajang Djaatmadja membentuk panitia untuk mendirikan Dewan Kemakmuran Masjid Seluruh Indonesia (DKMSI).
Pada tanggal 16 Juni 1970 disusunlah formatur yang diketuai oleh KH. MS. Rahardjo Dikromo yang beranggotakan H. Sudirman, KH. MS. Rahardjo Dikromo, KH. Hasan Basri, KH. Muchtar Sanusi, KH. Hasyim Adnan, BA dan KH. Ichsan.
Contact Info
- Islamic Centre Building, JL Dukuh Kupang, 122-124, Dukuh Pakis, Surabaya, 60225 - Jawa Timur | Indonesia
- (031) 5680305
- info@dmijatim.or.id